Tur Sehari Mengagumi Pesona Barat Daya Taiwan

Rute kami dari Kota Chiayi ke resor sumber air panas Guanziling cukup berliku – ada setengah lusin tempat indah yang ingin kami kunjungi – meskipun jarak totalnya hanya 50 km. Dengan kata lain, wisatawan yang berkendara mobil mengikuti jalur kami tidak akan menyia-nyiakan waktu tamasya yang berharga di belakang kemudi. Mereka yang berkeliling dengan skuter sewaan juga tidak akan kelelahan, dan pengendara sepeda juga bakal mampu mengatasi tanjakan dan turunan dalam sehari.

Kota Chiayi

Dengan populasi 270.000, Kota Chiayi memang terlalu kecil untuk memiliki sistem metro. Terlebih lagi, jaringan bus lokal tidak terlalu komprehensif, sehingga pengunjung cenderung berkeliling dengan berjalan kaki, naik taksi, atau dengan bersepeda. Beberapa hotel lokal juga menyediakan sepeda untuk digunakan oleh tamu.

Tujuan pertama kami adalah tempat yang dikenal sebagai tiga kebun raya Chiayi. Dikenal dengan nama Kebun Raya Chiayi, Kebun Botani Shanziding, atau Arboretum Chiayi, kebun ini terletak sekitar 3 km di sebelah timur Stasiun Kereta Api Chiayi, dan telah menjadi pusat penelitian sejak didirikan pada tahun 1908. Di sepanjang Taman Chiayi yang berdekatan – terhampar – kawasan yang membentuk “paru-paru” terbesar di kota. Beberapa pengunjung ada yang datang ke sana untuk jogging, ada pula yang membawa anak-anak atau hewan peliharaan mereka untuk sekadar menghirup udara segar. Jika Anda suka berkebun, Anda pasti akan bersantai sambil mengidentifikasi berbagai jenis mahoni, cendana, dan pohon karet, yang semuanya dilabeli dalam bahasa Inggris dan China.

Selain menjadi tempat yang cocok untuk piknik, Taman Chiayi terdiri dari dua gedung yang sangat berbeda. Menara Menembak Matahari (buka dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore setiap hari Rabu hingga Jumat; sampai jam 9 malam setiap hari Sabtu dan Minggu), adalah bangunan tertinggi di sisi kota ini. Jika langit sedang cerah, membeli tiket (NT$50) ke observatorium di lantai sepuluh tidak akan sia-sia karena Anda dapat menatap lintas kota hingga ke barat dan ke pedalaman menatap dua waduk yang juga ada dalam daftar ” wajib dikunjungi.” Namun karena keterbatasan waktu pada jadwal wisata yang sibuk ini, alih-alih mengunjungi puncak menara, kami malah berjalan ke gedung megah berlantai satu yang berjarak kurang dari 100m.

Selama periode 1895 ~ 1945 saat pemerintahan kolonial Jepang, Taman Chiayi adalah lokasi untuk kuil Shinto utama. Banyak dari kompleks kuil tersebut dihancurkan setelah Perang Dunia II, tetapi bangunan tersebut sekarang dinamakan Showa J18 (buka dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore setiap hari Selasa hingga Kamis dan Minggu; hingga jam 8 malam setiap hari Jumat dan Sabtu) yang pernah diubah menjadi gudang, kantor, dan kemudian museum. Namanya saat ini mengacu pada tahun pembangunannya – tahun ke-18 masa pemerintahan Kaisar Jepang Showa, 1943.

Showa J18 memiliki kafe yang sangat menyenangkan, dan beberapa kamarnya dihiasi pajangan tentang sejarah bangunan. Tiket masuknya per orang NT$50, tetapi Anda bisa menukarkannya dengan membeli kopi selain juga bisa mempelajari peninggalan pusaka ini dengan cermat. Tempat ini sungguh-sungguh indah, baik di luar maupun di dalamnya.

Selanjutnya, kami berkendara ke arah timur melalui Jalan Raya Kabupaten 159A menuju Waduk Lantan. “Lantan” dapat diterjemahkan sebagai “Danau Anggrek,” tetapi sayangnya Anda tidak akan menemukan anggrek di sekitar sini. Nama sebenarnya memang terkait dengan legenda bahwa waduk ini diciptakan oleh Belanda pada abad ke-17 ketika mereka mengendalikan Tainan dan pedalamannya selama beberapa dekade (“Lan” dalam nama itu adalah karakter kedua dari nama China untuk Belanda).

Tempat favorit untuk memotret adalah Rippling Moonlit Talk, sebuah karya seni publik yang mengesankan di dekat titik paling selatan waduk. Untuk membuatnya, seniman Wang Wen-chi membentuk, memutar, dan menggabungkan potongan aluminium yang tak terhitung jumlahnya. Dari satu sudut Anda akan menganggapnya sebagai kepompong. Sedangkan dari sudut yang lain, Anda akan diingatkan tentang hutan ajaib. Anda bisa datang ke sini kapan saja, siang atau malam hari (warna warni lampu akan menerangi tempat ini).

Waduk Renyitan lebih besar dan lebih baru dari Waduk Lantan. Pembangunannya dimulai di bendungan pada tahun 1980, dan proyek itu selesai pada tahun 1987. Seperti halnya Lantan, Anda bisa berkendara menyusuri hampir seluruh jalanan di sekitarnya jika Anda ingin mencari pemandangan terbaik. Atau, lakukan seperti yang kami lakukan: parkir di ujung barat bendungan dan berjalan kaki untuk menikmati pemandangan dari sana.

Houbi dan Baihe

Tepat di selatan Kabupaten Chiayi, permukiman pedesaan yang menyenangkan membentang di distrik Kota Tainan, Houbi dan Baihe. Salah satu yang paling terkenal adalah Tugou, tempat mahasiswa seni dan aktivis lokal meramaikan komunitas pertanian yang mengalami kemunduran. Selama satu setengah dekade terakhir, mereka telah berhasil mengubah desa menjadi komunitas ramai yang mampu menarik pengunjung dengan karya-karya seni menawan di tengah kemegahan pedesaan. Pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional, Tugou dapat dicapai dari Stasiun Kereta Xinying, Stasiun Kereta Houbi, atau pusat Baihe dengan naik bus Kuning 6-1. Ada delapan layanan per hari dari kedua arah.

Rute bus yang sama akan mendekatkan Anda dengan tempat-tempat wisata lainnya. Waktu ideal untuk mengunjungi Jalan Linchupi Kapok Tree adalah pertengahan Februari hingga pertengahan Maret, ketika pohon Bombax ceiba (kapas sutra merah) yang berbatang lurus mekar berbunga. Selain tajuk berwarna oranye-merah yang memahkotai pohon, tanah pun akan dipenuhi hamparan bunga lima-kelopak besar. Tidak ada alasan untuk tidak mengambilnya jika Anda mengaguminya, mungkin bisa digunakan untuk menghias kamar hotel atau homestay Anda selama satu atau dua hari.

Pedesaan Taiwan memiliki sentuhan warna hijau, dan bunga sakura dan persik yang meramaikan berbagai lokasi di daerah pegunungan dengan tambahan warna merah muda dan putih pada pemandangannya. Tetapi di beberapa tempat di pulau itu ada juga yang menawarkan warna-warna cerah dan tajam seperti Linchupi, jadi tidak mengherankan bila ribuan pengunjung kerap datang ke sini untuk mengaguminya.

Jika Anda mengemudikan mobil atau mengendarai motor, pilihlah Jalan Tainan 90 dan terus saja sampai Anda mencapai rambu jalan yang bertuliskan “4” (angka berwarna putih dengan latar belakang hijau, di bawah nomor jalan). Pada jam-jam ramai, diberlakukan pengendalian lalu lintas; pengunjung disarankan untuk memarkir di tempat yang telah ditentukan, lalu berjalan kaki sebentar.

Jika Anda tiba di bagian Tainan ini beberapa bulan setelah musim semi dan bunga pohon kapuk telah selesai bermekaran, pilihan Anda berikutnya adalah menikmati atraksi bunga Baihe lainnya. Distrik ini terkenal dengan kolam teratai, dan bunga-bunga berwarna merah muda dari tanaman air ini merupakan pusat atraksi selama musim panas.

Seperti para petani di seluruh dunia, para petani Baihe adalah kalangan praktis yang tidak akan berpikir untuk menanam teratai hanya untuk alasan estetika semata. Jika Anda menjelajahi masakan lokal Taiwan, Anda akan menemukan mengapa teratai India dianggap sebagai tanaman penting di sini. Irisan akar teratai kadang disajikan dalam salad, dan kadang-kadang juga digoreng atau dibuat acar. Keripik teratai yang dipanggang di oven ternyata lebih menyehatkan daripada keripik kentang. Biji teratai juga lezat untuk dikonsumsi.

Guanziling

Berkendara dari kolam Baihe ke Guanziling hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Desa ini, yang merupakan bagian dari Distrik Baihe, berada di ketinggian sekitar 270 m di atas permukaan laut. Tempat ini adalah salah satu sumber mata air panas tertua di Taiwan.

Pengunjung mulai berdatangan ke sini untuk berendam ketika sumber mata air panas itu dikembangkan sebagai tempat peristirahatan oleh Jepang pada tahun 1902, dan mereka terus berdatangan dalam jumlah besar, terutama selama bulan-bulan di musim yang lebih dingin. Resor-resor lain mungkin memiliki hotel-hotel mewah, atau pilihan makanan yang lebih banyak, tetapi Guanziling memiliki keunikan sendiri karena memiliki air alkali natrium bikarbonat berlumpur yang terkenal. Partikel lumpurnya sangat halus, sehingga tidak menggores seperti pasir pantai. Lumpur itu juga diyakini bisa memberikan berbagai manfaat kesehatan dan kecantikan bagi mereka yang melumuri dirinya berlama-lama di air abu-abu itu dan – yang penting – jangan terburu-buru membilas lumpur setelah keluar dari pemandian. Menjadikan kulit cokelat sehat adalah hal yang mudah di Taiwan selatan yang cerah, namun beberapa orang beranggapan bahwa kulit cokelat berarti Anda banyak bekerja di luar rumah, sehingga banyak orang Taiwan malah lebih menginginkan kulit yang putih. Selama kunjungan Anda, Anda akan sering melihat para wanita yang menganggap mineral yang terkandung pada lumpur Guanziling dapat memutihkan kulit mereka.

Jika Anda ingin melumuri diri Anda dengan lumpur alami, tetapi tidak berencana untuk menginap, pergilah ke penginapan lokal yang dilengkapi dengan kolam renang umum, seperti Hotel Resor Toong Mao yang memiliki 79 kamar. Toong Mao memiliki kolam renang indoor (satu untuk setiap jenis kelamin; dan tidak diperbolehkan memakai pakaian renang) serta fasilitas mandi outdoor (harus memakai pakaian renang). Di tepi kedua kolam, Anda akan menemukan ember kayu berisi lumpur dari sumber air panas, sehingga Anda dapat melumuri diri sendiri dengan saksama dan menyerupai monster rawa!

Hung menjelaskan bahwa tanah berserat kelapa yang digunakan, lebih baik dalam menyerap air daripada jenis tanah lainnya. Dia mengizinkan kami menyentuhnya – terasa sangat lembut dan kenyal. Alasnya diganti setiap musim untuk mengakomodasi berbagai tanaman yang berbeda. Pada musim panas, ratusan semangka dan labu mengisi rumah kaca tersebut.

“Kami selalu bereksperimen dengan berbagai tanaman,” ujar Hung kepada kami. Dia menunjukkan kepada kami beberapa tanaman musim dingin lainnya, termasuk jagung dari ladang kecil di belakang salah satu rumah kaca, bersama dengan kemangi Taiwan, buah ara, dan blueberry, yang ditanam dalam pot. Ada juga apel, lobak, dan – yang paling unik – kubis Taiwan berukuran raksasa yang sangat besar dan berat sehingga saya pasti akan kesulitan membawanya sendiri. Untungnya, saya pikir, saya tidak akan harus mengangkut sayuran apa pun hari ini sebagai bagian dari kegiatan bertani saya.

Hung mengeluarkan keranjang belanja kecil berwarna merah, gunting, dan topi jerami berbentuk kerucut tradisional Taiwan. Kini saatnya untuk memilih tomat ceri! Ada banyak yang bisa dipilih – kuning, merah, hijau muda, dan ungu tua. “Yang kuning dan merah adalah yang paling manis,” kata Hung. Dia juga menjelaskan cara membedakan tomat yang matang dengan yang belum siap petik; dan pada dasarnya, yang kulitnya masih berwarna hijau tua tidak boleh dipetik.

Saya mengenakan topi besar dan memegang keranjang dengan satu tangan, merasa sedikit konyol, mirip seperti petani yang digambarkan dalam buku bergambar. Jari-jari saya tidak cekatan seperti Hung, jadi saya menggunakan gunting secara perlahan dan memotong tomat ceri merah dan kuning dari batangnya dengan hati-hati, memilih yang tampak montok dan berjingkat di ujung jari kaki saya untuk meraih tomat yang menggantung di bawah atap.

Sepuluh menit setelah pemetikan, jari-jari saya berwarna hijau keabu-abuan. Saya pikir mungkin saya tidak cocok untuk bertani. “Jangan khawatir – itu normal!” Hung tertawa meyakinkan. Kami membilas tomat ceri dengan air dan mencicipi beberapa. Saya lebih suka yang berwarna kuning, karena tidak terlalu asam dibanding dengan yang berwarna kemerahan dan manisnya nikmat.

Hotel Resor Toong Mao (統茂溫泉會館) 

Alamat: No. 28, Guanziling, Wilayah Guanling, Distrik Baihe, Kota Tainan.

Tel: (06) 682-3456

Berkeliling 

Jika tujuan utama Anda adalah Guanziling, Anda tidak perlu menyewa kendaraan. Dari pusat Baihe, bus Kuning 12 dan Kuning 13 berkeliling 17 kali ke Guanziling setiap harinya. Pilihan transportasi umum lainnya untuk wisatawan termasuk bus no. 7214 dari Stasiun Kereta Api Chiayi melalui pusat Baihe (11 keberangkatan per hari) dan Shuttle Turis 33 (empat per hari; hanya hari Jumat, Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional saja). Yang terakhir ini mengambil rute memutar tetapi berguna dari Stasiun Bus Xinying ke Guanziling, berhenti di THSR (Kereta Api Cepat Taiwan) Stasiun Chiayi, Museum Istana Nasional Cabang Selatan (south.npm.gov.tw), dan Stasiun Kereta Api Houbi (dianggap sebagai salah satu bangunan stasiun era kolonial terbaik yang masih ada), serta pusat Baihe.