Taman Nasional Pesisir Pantai Timur yang dikenal sebagai “lahan tanpa cemarah terakhir di Taiwan” membentang 170 kilometer menyusuri pantai timur pulau dari muara Sungai Hualien di utara ke Shiauyeliou (Little Yeliou) di selatan. Di sebelah timur itu dibatasi oleh Samudra Pasifik; ke barat mendaki hingga ke Area Pesisir Gunung. Kontur area ini terdiri dari batuan vulkanik,batu karang dari kedalaman laut, dan terumbu yang telah terangkat ke atas oleh gerakan tektonik. Pelapukan, erosi, dan akumulasi telah menghasilkan berbagai bentang alam di sini, termasuk teras pantai, pantai dengan hamparan pasir dan kerikil, terumbu pantai, pulau-pulau perairan pantai, dan semenanjung dengan permukaan laut terkikis, parit, dan gua-gua. Topografi bervariasi ini menyediakan habitat yang subur untuk keragaman flora dan fauna.
Pantai Timur adalah kampung halaman utama dari suku Aborigin Amis. Desa-desa Suku Amis berada di sepanjang garis pantai, dan festival panen yang mereka adakan pada bulan Juli dan Agustus setiap tahun menawarkan kesempatan bagi pengunjung untuk mendapatkan wawasan mengenai budaya suku yang unik ini. Sebelum Suku Amis menetap di sini, terdapat orang prasejarah yang datang dan pergi, meninggalkan khasanah artefak yang beragam dan situs kuno yang masih dapat dilihat sampai hari ini. Di antara fitur budaya yang lebih modern dari garis pantai, terdapat kuil, gereja, dan desa-desa nelayan kuno yang memesona. Wilayah yang kaya dengan aset alam dan budaya ini menginspirasi Biro Pariwisata untuk mendirikan Taman Nasional Pantai Timur pada 1988, sekaligus melakukan pengembangan aktif dari sumber rekreasi di sini.

Laman Web